Rabu, 21 November 2012

LAPORAN RESMI FARFIS 1

I.     JUDUL
Pengaruh Suhu Terhadap Kelarutan Intrinsik Obat
II.   TUJUAN
Memperkenalkan konsep dan proses pendukung sistem kelarutan obat dan menentukan parameter kelarutan zat
III.  DASAR TEORI
                 Kelarutan suatu zat didefinisikan sebagai jumlah solute yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu larutan jenuhdalam sejumlah solven. Pada suatu temperatur, tentu suatu larutan jenuh yang bercampur dengan solute yang tidak terlarut merupakan contoh lain dari keadaan kesetimbangan dinamik. Partikel-partikel dari solute secara tetap bergerak melalui larutan dan pada waktu yang bersamaan partikel-partikel solute yang telah berada dalam larutan secara kontinu bertabrakan dan melekat pada solute yang tak terlarut. Meskipun di sini kita menunjukkan kesetimbangan tersebut untuk zat padat yang terlarut dalam zat cair, konsep yang sama dapat diterapkan pada setiap tipe larutan, kecuali gas. Semua gas dapat campur sempurna. Suatu larutan dikatakan dikatakan larutan jenuh apabila terjadi keseimbangan antara fase solute.
Kelarutan suatu zat(solute) dalam solven tertentu digambarkan sebagai like dissolves like (senyawa atau zat yang strukturnya menyerupai akan saling melarutkan). Like dissolves like sekarang dapat disusun kembali dengan menyatakan bahwa kelarutan suatu zat pada umumnya diperkirakan hanya dalam cara kualitatif, setelah mempertimbangkanhal-hal seperti polaritas, tetapan dielektrik, asosiasi, solvasi tekanan dalam, reaksi asam basa, dan factor-faktor lainnya. Singkatnya, kelarutan bergantung pada kelarutan kimia, listrik, struktur yang menyebabkan interaksi timbal balik antara zat terlarut dan pelarut.
Kelarutan gas dalam cairan dipengaruhi tekanan, suhu, rekasi kimia, dan salting out. Gas terkadang dibebaskan dari larutan dimana gas tersebut terlarut dengan memasukkan suatu elektrolit seperti natrium klorida dan terkadang dengan zat nonelektrolit seperti sukrosa. Gejala ini dikenal dengan pengusiran garam atau salting out. Pengaruh pengusiran garam dapat diperlihatkan dengan menambahkan sejumlah kecil garam ke dalam larutan berkarbon. Hasil pelepasan gas disebabkan karena gaya tarik menarik ion garam atau zat nonelektrolit yang sangat polar dengan molekul air, yang mengurangi kerapatan cairan dalam cairan dan padatan dalam padatan.
Perhitungan kelarutan dapat dilakukan menurut Hukum Henry (tetapan α) maupun koefisien absorpsi Bunsen (tetapan α). Koefiesien Bunsen α didefinisikan sebagai volume gas dalam liter (reduksi pada keadaan standar 0˚C dan tekanan 760mmHg) yang larut dalam 1 liter pelarut pada tekanan parsial gas 1 atm pada temperatur tertentu.
Kelarutan cairan dalam digolongkan menjadi dua atas dasar ada tidaknya penyimpangan terhadap Hukum Roult. Disebut larutan ideal apabila tidak ada penyimpangan terhadap Hukum Roult dan disebut larutan non ideal apabila ada penyimpangan. Dalam hal ini perlu diperhatikan tentang sistemnya (tercampur sempurna/sebagian), pengaruh zat asing, komponen penyusun (binair/ternair), tetapan dielektrik, hubungan molekular, dan luas permukaan molekular.
Kelarutan zat padat dalam larutan ideal bergantung pada temperatur, titik leleh zat padat, panas peleburan molar ΔHf, yaitu panas yang diabsorpsi apabila zat padat meleleh. Dalam larutan ideal, panas pelarutan sama dengan panas peleburan yang dianggap konstan tidak bergantung pada temperatur. Kelarutan ideal tidak dipengaruhi oleh sifat pelarut. Persamaan yang diturunkan dari pertimbangan termodinamik. Untuk larutan ideal zat padat dalam cairan adalah:
-log X2i = ΔHf       (To-T)
                                                                2,303 R  (T. To)
Pada temperatur di atas titik leleh, zat terlarut berada dalam keadaan cair, dan dalam larutan ideal, zat terlarut cair bercampur dengan segala perbandingan dengan pelarut. Oleh karena itu, persamaan di atas tidak lagi dipakai apabila T>To. Persamaan ini juga tidak memadai pada temperatur yang diperkirakan di bawah titik leleh.
Keaktifan zat terlarut dalam larutan dinyatakan sebagai konsentrasi dikalikan dengan koefisien. Untuk larutan non ideal, persamaannya:
-log X2=ΔHf        (To-T)
  2,303 R    (To. T)
Keterbatasan persamaan ini ialah tidak cocok untuk proses-proses yang didalamnya terjadi solvasi dan asosiasi antara solute dan solven, demikian pula untuk larutan elektrolit. Persamaan ini hanya berlaku apabila dalam larutan tidak terdapat katan lain selain ikatan Van der Waals.
IV.  ALAT
            1. Tabung uji kelarutan
            2. Spektrofotometer UV-Vis
            3. Labu ukur
            4. Pipet volume
            5. Corong
            6. Batang pengaduk
            7. Timbangan
            8. Gelas ukur
            9. Beaker glass
            10. Kalkulator
            11. Disolusi tester
            12. Thermometer
            13. Kertas Saring
V.   BAHAN
            1. Asetosal
            2. Alkohol 95%
            3. Natrium Asetosal
            4. Asam asetat glasial
            5. Aqua Destilata

VI.  CARA KERJA
            1. Membuat larutan dapar
§  Timbang Natrium asetosal 5,98 gr
§  Tambahkan Asam Asetat glasial dalam labu ukur 2L 3,32 ml
§  Tambahkan Aquadest ad volumenya 2L
§  Aduk / gojog hingga larutan tercampur
            2. Menentukan kadar kurva baku
§  Timbang asetosal 140 mg masukan ke dalam labu ukur 100ml
§  Tambahkan alkohol 95% ad asetosal larut ±1-2 ml
§  Tambahkan larutan dapar ad 100ml
§  Aduk/gojog ad larutan homogen
§  Ambil 1ml,2ml,3ml,4ml,5ml dari larutan tsb.
§  Tentukan kurva bakunya menggunakan spektrofotometer
            3. Timbang asetosal 500 mg masukan ke dalam disolusi tester
            4. Tambahkan laritan dapar ad 500 ml
            5. Sampling pada suhu 29ºC, 34ºC,dan 39ºC
            6. aduk dengan alat disolusi tester tsb dengan kecepatan 100 rpm selama 20 menit
            7. Hitung dan tentukan absorbansi kelarutan asetosal tsb.

 VII. HASIL PRAKTIKUM
No.
Kurva baku (x)
Absorbansi (y)
1
11,2 mg %
0,123
2
22,4 mg %
0,297
3
33,6 mg %
0,459
4
44,8 mg %
0,614
5
56 mg %
0,774
·         Data dan Perhitungan


  

Kurva baku (x)
V1N1  =  V2N2
1.      1 ml → 1 ml × 280  =  25 ml × N2
                                     N2  =   =  11,2 mg%
2.      2 ml →  2 ml × 280  =  25 ml × N2
                                  N2  =    =  22,4 mg%
3.      3 ml → 3 ml × 280  =  25 ml × N2
                           N2  =    =  33,6 mg%
4.      4 ml → 4 ml × 280  =  25 ml × N2
                                        N2  =    =  44,8 mg%
5.      5 ml → 5 ml × 280  =  25 ml × N2
                                          N2  =    =  56 mg%
No.
Suhu
Absorbansi
Kadar (mg %)
1
29˚
0,597
43,701
2
34˚
0,599
43,840
3
39˚
0,581
42,590
 
   

                                          ɑ  =  − 0,0323
                                          b  =  0,0144
                                          r  =  0,09997767
        ( suhu 29˚) → y = ɑ + bx                                   ( suhu 39˚) → y = ɑ + bx           
                       0,597 = ( −0,0323 ) + 0,0144x                           0,581 = ( −0,0323 ) + 0,0144x
                              x = 43,701 mg%                                                 x = 42,590 mg%
          ( suhu 34˚) → y = ɑ + bx
                       0,599 = ( −0,0323 ) + 0,0144x
                              x = 43,843 mg%






·         Grafik
Grafik Kurva Baku
         
Grafik Absorbansi Asetosal


VIII. PEMBAHASAN
             Kelarutan merupakan suatu faktor yang sangat penting pada proses formulasi obat karena kelarutan digunakan sebagai alat untuk menghipotesis kecepatan absorbsi suatu obat. pada percobaan kelarutan intrinsik obat berdasarkan suhu didapatkan hasil kurva yang memberitahukan bahwa semakin tinggi kurva baku yang dihasilkan maka absorbansinya juga akan semakin tinggi mengikuti kenaikan kurva baku tsb. Selain hal tsb. Kelarutan suatu senyawa bergantung pada Sifat fisika kimia suatu zat, tempeatur/suhu, jenis pelarut yang digunakan, dan bentuk dan ukuran partikel dari zat yang akan dilarutkan.


IX. KESIMPULAN
             Berdasarkan dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pada suhu 29ºC didapatkan absorbansi 0,597 dengan kadar 43,701mg%, pada suhu 34ºC didapatkan absorbansi 0,599 dengan kadar 43,840 mg%, dan pada suhu 39ºC didapatkan absorbansi 0,581 dengan kadar 42,590. Dalam data tsb menunjukkan bahwa ada penurunan absorbansi yang mungkin disebabkan karena ada kesalahan perhitungan waktu pada saat pengadukan dan pembacaan termometer. Dan zat yang bersifat eksotermik atau melepas panas jika suhu diturunkan maka kelarutan juga akan menurun namun untuk zat – zat yang bersifat endotermik atau menyerap panas semakin naik suhu maka kelarutan juga akan semakin tinggi

X. DAFTAR PUSTAKA
Dzakwan, Muhammad,2011,Petunjuk praktikum farmasi fisik 1, Universitas Setia Budi,   hal. 14-16
Martin, Alfred, dkk. 1969. Farmasi Fisik Dasar-dasar Kimia Fisik dalam Ilmu Farmasetik Edisi Ketiga Jilid Pertama. University of Texas: Pensylvania.











                                                                                                                                      

Tidak ada komentar: